This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Minggu, 22 Agustus 2010
Buka Bareng
Ngumpetin File di Gambar
Pernah punya file yang teramat rahasia yang gak mau orang lain tau? Semisal kita punya curhatan tingkat tinggi yang cuman kita bagi ama komputer doang nih. Kita gak mau cerita ama temen, ortu, pacar, atau bahkan selingkuhan. Jadi yaaa curhatnya ama komputer. Yang jadi masalah, gimana kalo komputer yang kita pake untuk curhat itu dipake bareng-bareng ama orang lain. Terlebih lagi orang lainnya itu tukang gosip... wahhhh... bisa berabe nih. Bisa kaya ariel nanti digosipin sepanjang masa. Huhuhuhuuuuu...
Kau Ada untuk Memilihku
Aku ajak dia duduk di tempat makan yang sudah kami sepakati sebelumnya. Aku ambil posisi berhadapan dengannya. Bodohnya, basa basi grogiku memecah hening. “Nanti bayar sendiri-sendiri yah, lagi gak punya uang nih,” ujarku sambil terkekeh.
Aku merutuk diriku, untuk hari sepenting ini kenapa tidak meminjam dulu uang teman seperti yang biasa kulakukan. Sesal lagi-lagi menyelinap dalam pikiranku. Beberapa saat kami terdiam. Dalam diam aku terus memutar otakku menemukan kata yang tepat untuk diucapkan. Entah dia sedang berpikir apa, mungkin menunggu saja tanpa berpikir. Tak dapat kuterka apa yang ada dibalik senyumnya.
Tak ada yang dapat kutawarkan padanya selain segudang mimpi yang mungkin terlalu besar. Sayang, dia terlalu indah untuk tidak disayangi. Cinta, semua orang bisa mencintainya. Ia istimewa. Apa yang dapat kuberikan padanya yang orang lain tak mampu berikan. Selalu itu yang menghambat langkahku untuk mengajaknya bersanding di sisiku.
Terlalu naif bila ku bilang aku setia dan layak untuk dipilih olehnya. Apakah ada yang akan meninggalkannya untuk mendampingi yang lain. Kupikir tak mungkin ada. Ia terlampau berharga untuk diduakan dengan orang lain. Apa yang mesti kuperbuat untuknya yang tak dapat dilakukan orang lain.
Kisah untuk diukir bersama sepanjang hidup, itu yang terucap dariku. Ia bersedia menerima. Aku diam. Aku lupa caranya untuk terkejut. Aku senang, tentu, tapi aku lupa caranya untuk bahagia. “Hhhhh... aku lega, terimakasih ya,” itu kata yang mengawali kisah kami. Bodoh memang, kaya tidak ada kata-kata lain yang lebih indah. Tapi dia tersenyum.
Tidak banyak obrolan yang kami bicarakan hingga dia akhirnya pulang. Ia memang istimewa. Sempurna untukku. Aku yang tak bisa memperlakukannya dengan istimewa. Aku terlalu bodoh dalam mencintainya. Ia kecewa, marah, kesal tapi tetap mau bersamaku. Ia tetap memilihku. Ia Trisna Ari Ayumika. Terimakasih sayang...
Kamis, 12 Agustus 2010
Pada Awalnya
Widhi Maulana Dessangga, itu nama yang diberikan oleh bapa saat aku baru berumur beberapa hari. Sejatinya sih, nama itu sudah disiapkan sebelum aku lahir namun baru diresmikan saat bapa punya uang untuk membuat sebuah upacara selamatan. Bapa sebenarnya tak mau mengadakan upacara itu tapi kehendak kakek membuat bapa terpaksa mengadakan selamatan yang katanya membawa berkah. Semoga.
Beranjak pada usia sepuluh tahun namaku “diusik” oleh guru ngajiku yang sangat kuhormati. Beliau berpendapat namaku itu tidak umum sebagai seorang muslim. Aku harus ganti nama. Walau aku tak peduli, tapi hati kecilku menolak rencana guruku itu. Untunglah bapa menolak dengan halus, menurut bapa nama tak berhubungan agama yang dianut. Hore, hati kecilku bersorak. Aku bangga dengan nama ini. Terimakasih bapa.
Mengenai pergantian nama memang sudah menjadi hal yang biasa dalam tatanan budaya masyarakat desaku. Dalam keluargaku sendiri ada banyak kerabatku yang mengalami sejarah pergantian nama (hehehe...). Toharikin, nama itu hanya bertahan selama dua tahun di diri sepupuku sebelum akhirnya harus berganti menjadi Nurkholis. Lantas Maya, sepupuku juga, berganti nama menjadi Azizah. Juga Jonah, nama nenekku, berubah menjadi Cariyah. Ada berbagai alasan memang yang menyebabkan nama bisa/harus diganti. Bisa karena sakit, menolak bala, tidak sesuai agama (Islam) dan sebagainya. Namaku sendiri, Widhi, dianggap sebagai nama orang Hindu maka mesti diganti. Untungnya ada bapa. Terimakasih (lagi) bapa. Aku suka dengan namaku. Widhi Maulana Dessangga.
Akan tetapi saat aku lulus SD aku harus terima kenyataan kalau namaku mengalami pengurangan satu huruf ‘s’ pada kata dessangga. Guruku salah menuliskannya di ijazah. Ah, ada-ada saja. Maka sejak saat itu Widhi Maulana Desangga-lah nama lengkapku. Duapuluh huruf.
Cerita tentang sekolah...
Usiaku baru empat tahun lebih saat aku mulai merasakan kesepian di rumah. Semua teman-temanku tidak ada di rumahnya. Aku kesepian. Setiap pagi aku melihat mereka memakai seragam merah putih pergi bersama-sama. Aku ditinggal. Aku tidak diajak. Aku kesepian. Ketika itu agustus baru menyapa. Aku merengek sejadinya. Aku ingin seragam itu. Aku ingin pergi bersama mereka. Aku ingin sekolah.
Seminggu setelah itu aku pun dititipkan ke sekolah. Bapa meminta aku diikutkan dalam kelas. ‘tak usah dinilai’ bilang bapa pada kepala sekolah. Aku tidak perlu dinaikkan, tambahnya. Akan tetapi pada pembagian raport aku tetap diberikan nilai oleh wali kelasku. Ranking enam. Wow, bangga sekali aku saat itu. Bapa terkejut. Akhirnya akupun sekolah secara penuh. Kenaikan kelas satu aku meraih ranking delapan. Menurun memang, tapi aku tetap senang.
Kelas empat caturwulan dua aku dipindah ke desa, orangtuaku pindah rumah ke daerah Petukangan Selatan. Menempati rumah kepala sekolah, atasan bapa. Di desa aku meraja. Ranking satu aku genggam sampai lulus SD. Selain itu NEM tertinggi pun aku renggut. Berbekal gelar tertinggi itu pula aku sempat pongah ketika harus sekolah di Jakarta. Akan kutaklukkan Jakarta. Hehehe...
Akan tetapi ternyata orang Jakarta pintar-pintar, NEM-ku tidak ada apa-apanya.
SMA-ku di sekolah terfavorit di Bekasi, SMAN 1. Di sekolah ini aku selalu meraih ranking tiga besar, benar-benar tiga besar. Tigapuluh tiga, tigapuluh empat, tiga puluh sembilan, hehehe.... Terus terang aku tak termotivasi sekolah di SMAN favorit ini. Baru di kelas tiga aku mendapat feel, aku meraih ranking tujuh. Teman-temanku kaget. Bahkan aku, tapi aku tak peduli dengan ranking-ranking seperti itu.
Memasuki dunia kampus, aku memilih Jurusan Bahasa Indonesia. Kupikir kuliah akan berbeda dengan sekolah. Tapi ah...., sama saja. Hanya berbeda tidak mengenakan seragam. Peraturan yang ada terlalu banyak mengekang kebebasanku. Terutama masalah jadwal. Aku sudah menyusun sedemikian rupa agar aku tak pernah kuliah pagi. Tapi yang terjadi seringkali berbalikan dengan apa yang kuinginkan. Ah..., dunia sekolah memang tak selalu mengenakkan. Hanya statusnya saja yang tinggi, Mahasiswa.
Mungkin itu saja perkenalan dengan aku dan hidup (membosankan)ku.
Membangun Kota yang Nyaman dan Efisien
Bicara mengenai kota, harus bicara mengenai sistem tata ruang kota dan harus dikelola dengan baik. Sistem tata ruang menjadi referensi pembangunan bagi pemerintah, swasta maupun warga. Selama sistem tata ruang tidak disusun dengan baik, berdasarkan relasi-relasi fungsional, maka tidak akan pernah tertata dengan baik.
Dalam pembangunan ekonomi konsepnya mesti benar-benar dipikirkan agar tidak menghamburkan dana tapi malah membuat semrawut keadaan kota. Semisal di Jakarta, pembangunan mal-mal tidak didasarkan pada analisis lingkungan yang memadai akibatnya, kesemrawutan yang ditimbulkan justru lebih besar dampaknya dibandingkan dengan keuntungannya. Kemacetan yang terjadi di depan atau persimpangan mal sulit terurai sebab banyaknya angkutan umum yang ngetem di sana.
Tidak hanya itu, tata letak pembangunan mal yang tidak dipikirkan secara terencana akhirnya membuat persaingan yang tidak seimbang. Pada akhirnya banyak mal-mal yang kini mati suri atau bahkan bangkrut dan beralih fungsi. Contohnya adalah salah satu mal besar yang ada di kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara dan banyak mal lainnya.
Konsep pembangunan yang terencana matang akan membantu pemerintah kota untuk dimengerti oleh warganya, sehingga tidak akan mengakibatkan penggusuran yang berujung konflik. Relasi fungsional pembangunan kota mesti memperhatikan betul aspek-aspek sosial yang ada. Semisal dalam penggusuran di kawasan kumuh, harus diingat juga bahwa penghuni kawasan yang dianggap kumuh itu merupakan konstituen penyelenggara kehidupan kota baik sebagai konsumen, pekerja atau justru pegawai pemerintahan berpangkat rendah.
Sayangnya, hal itu tidak dilaksanakan oleh pemerintah kota. Pembangunan kota-kota di Indonesia menafikan partisipasi warga. Warga tidak dihitung sebagai manusia yang berhabitat dalam ruang, tetapi menjadi angka semata. Terjadilah apa yang disebut “kota tanpa warga”. Pemerintah asyik membangun gedung-gedung tinggi untuk menarik investor sementara warganya digeser ke pinggiran dan terpaksa mendiami kawasan padat penghuni yang mana pada akhirnya akan disebut sebagai kawasan kumuh. Jika seperti ini terus maka mata rantai penggusuran pun tak dapat dihilangkan.
Roma tidak dibangun dalam sehari. Itulah pepatah yang kiranya harus diresapi oleh para pembesar di negeri ini. Diperlukan sebuah blue print pembangunan jangka panjang yang harus dipatuhi sehingga pembangunan yang dilakukan tidak asal-asalan.
Kamis, 17 Juni 2010
Lokal Sebagai Jawaban
Urbanisasi merupakan persoalan kompleks yang terus menerus ada setiap tahunnya. Tidak sedikit pakar kependudukan yang menjelaskan mengenai dampak buruk yang ditimbulkan oleh arus urbanisasi. Akan tetapi, seperti pepatah “anjing menggonggong, kafilah berlalu”. Arus urbanisasi justru semakin sulit dibendung, hal ini mengakibatkan meluasnya problem sosial sebab mereka yang melakukan urbanisasi merupakan kaum miskin yang hendak meningkatkan taraf kehidupan.
Berpindahnya penduduk desa ke kota menyebabkan adanya ledakan jumlah penduduk, belum lagi ditambah dengan angka fertilitas sehingga populasi perkotaan semakin tidak terkendali. Dalam kacamata sosio-budaya hal ini akan menyebabkan terguncangnya keseimbangan hidup sebab percepatan gerak pun semakin bertambah laju.
Menurut riset UN-HSP (The United Nations Human Settlements Programme), kelak dua pertiga dari seluruh penduduk bumi akan tinggal di daerah perkotaan. Tahun lalu saja populasi penduduk Jakarta sekitar 13 juta jiwa. Diprediksi oleh World Urbanization Prospect, pada tahun 2015 nanti populasi penduduk jakarta akan bertambah menjadi 17,5 juta jiwa. Dengan pesatnya pertambahan penduduk ini dikhawatirkan akan terjadi penumpukan warga miskin di perkotaan sehingga potensi mereka tak terberdayakan dengan baik. Jika sudah demikian tak pelak lagi kita akan mengalami kemiskinan global.
Selain faktor alamiah seperti kelahiran dan kematian, arus urbanisasi yang tak dapat di rem merupakan isu sentral yang harus ditanggulangi pemerintah dalam mencegah ancaman kemiskinan global. Tahun ini saja ada sekitar 360.000 orang yang masuk ke Jakarta, hanya di Jakarta. Bisa kita bayangkan ada berapa orang lagi yang memasuki perkotaan lain seperti Bandung, Surabaya, Medan, Pontianak, dan kota besar lainnya.
Berbagai cara sudah dilakukan untuk menghambat laju urbanisasi tapi semua itu seakan tak ada guna. Semisal Operasi Yustisi, bukannya berhasil membuat jera penduduk desa untuk kembali berurbanisasi, malahan operasi ini dicibir sejumlah kalangan sebagai operasi yang membuang-buang kas daerah. Operasi ini dianggap sebagai upaya untuk menutupi ketidakberhasilan pemerintah dalam memeratakan kesejahteraan pada rakyatnya.
Urbanisasi merupakan ‘bencana’ yang tak mungkin dihindari karena sudah fitrahnya manusia untuk mencari yang lebih baik. Kebetulan yang lebih baik itu adanya di perkotaan bukan desa yang mereka tinggali sejak kecil. Oleh karena itu, pemerintah harus segera mengembangkan potensi daerah agar lebih terberdayakan.
Pembangunan yang bersifat Lokal
Pembangunan lokal yang dimaksud adalah memandirikan suatu daerah secara sosial ekonomi berdasarkan potensi alam dan budaya yang dimiliki. Pengembangan ini bisa saja dengan membentuk organisasi se-profesi di daerah tersebut, semisal Organisasi Petani Bawang di Brebes atau Persatuan Pemahat di Asmat, sehingga mereka akan lebih solid dan mampu menciptakan lapangan kerja yang cukup untuk daerah mereka sendiri sehingga daerah mereka pun dengan sendirinya akan bertambah maju.
Akan tetapi tentunya pemerintah pun tidak tinggal diam dalam pembangunan lokal ini. Pemerintah bertanggungjawab dalam penyediaan sarana dan prasarananya seperti jalan yang baik, gedung pertemuan, membangun penginapan di daerah yang potensi wisatanya tinggi dan banyak hal lainnya sehingga masing-masing daerah memiliki ciri dan keunggulannya tersendiri. Titik sentralnya adalah mengorganisasi serta mentransformasi potensi-potensi ini menjadi penggerak bagi pembangunan lokal. Jelas upaya ini harus ditumbuhkembangkan terutama oleh masyarakat lokal itu sendiri. Untuk itu sangat diperlukan kehadiran para penggagas yang mampu bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk menggerakan pembangunan lokal tersebut. Dengan demikian apa dan bagaimana suatu rencana pengembangan wilayah akan dilakukan haruslah dihasilkan oleh masyarakat itu sendiri mengenai apa dan bagaimana hal tersebut harus dan akan dilakukan.
Jika ini sudah tercapai rasanya ‘wong ndeso’ pun tak iri lagi pada ‘wong kuto’, sebab kini mereka telah tersejahterakan. Bukankah tujuan mereka melakukan urbanisasi adalah peningkatan kesejahteraan, bukan begitu...
Sabtu, 12 Juni 2010
Pengaruh Buku
Bila kita memasuki sebuah lingkaran komunitas atau organisasi kita akan dihadapkan pada bacaan-bacaan yang sifatnya wajib. Dalam komunitas design, buku tentang logo dan layout menjadi wajib. Dalam komunitas film, buku tentang skenario dan sejarah film jadi penting. Dalam komunitas sastra, seabrek judul karya adi menjadi sesuatu yang harus dilahap.
Sebuah buku bisa saja memiliki pengaruh besar terhadap pembacanya. Siapa yang menyangka akan ada yang membunuh hanya karena terbakar buku The Catcher in the Rye-nya JD Salinger. Mungkin tak ada yang mengira hanya dengan buku-buku di perpustakaan Karl May mampu berpetualang ke seluruh pelosok bumi (hanya satu bukunya yang ditulis berdasarkan petualangan asli). Dan banyak lagi buku yang menginspirasi pembacanya untuk melakukan tindakan-tindakan yang mencengangkan seperti The Turner Diaries (menginspirasikan naziisme di Amerika utuk meledakkan gedung federal), Trilogy Foundation (Sekte kiamat di Jepang terinspirasi dari buku ini) dan lainnya.
Untuk lingkup Indonesia kita mengenal Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer sebagai buku yang menginspirasi rasa nasionalisme terhadap bangsa. Yang lebih populer ada buu ayat-ayat cinta dan laskar pelangi yang disebut-sebut sebagai masterpiece karya sastra indonesia.
Dalam buku-buku yang menceritakan kehidupan tokoh tertentu, pembaca bisa memperoleh model yang memberinya inspirasi. Banyak penelitian yang menunjukkan kecenderungan remaja untuk meneladani siapa yang mereka baca. Pengaruh aspek sosial, moral dan kognitif dari buku itu membentuk identitas kepribadian pembacanya.
Kenapa bisa buku memengaruhi pembacanya seperti itu? Bisa jadi karena membaca merupakan kegiatan personal yang aktif. Saat membaca, seseorang mengizinkan waktu dan dirinya untuk masuk ke dalam paparan buku tersebut. Intensitas keterlibatan tubuh, perasaan dan pengetahuan pembacalah yang dapat menyebabkan pengaruh dari buku terhadap pembacanya.
REALITAS CITRA DALAM IKLAN
Mana lebih dulu? Telur atau ayam. Ini adalah pertanyaan tradisonal yang selalu saja muncul dari generasi ke generasi. Begitupun dalam iklan, mana yang lebih dulu mempengaruhi? Iklan atau realitas. Apakah iklan yang mempengaruhi kehidupan riil di masyarakat atau justru realita yang menjadi dasar pemikiran dalam iklan. Inilah salah satu bahasan yang diberikan oleh buku ini.
Dalam buku yang sebenarnya adalah sebuah skripsi ini, ada dua sudut pandang dalam penciptaan iklan, representasi dan simulasi. Teori pertama, representasi merupakan anak dari paham semiotika strukturalis yang dikomandani olah Ferdinand de Saussure yang menyatakan bahwa iklan terbentuk atas dasar realitas, sebab jika suatu iklan tidak didasarkan pada kehidupan riil maka iklan teresebut tidak akan laku. Menurutnya, hal itu disebabkan tidak adanya kedekatan antara representator (audience) dengan iklan. Sedangkan menurut teori kedua, simulasi, iklan merupakan satu kesatuan yang berdiri sendiri dan mampu menciptakan realitanya sendiri, lazim disebut dengan realitas hiper (Hyperreality). Saking kuatnya pengaruh dari iklan maka realitas hiper ini realitas dalam kehidupan riil. Teori ini merupakan anakan dari paham post-strukturalis yang diusung oleh Jean Baudrillard, Roland Barthes dan lainnya.
Buku ini lengkap menjelaskan tentang seluk beluk iklan mulai dari sejarahnya hingga konteks kekinian iklan-iklan yang muncul di televisi. Namun demikian yang dikonsentrasikan buku ini adalah mengenai pembacaan iklan dari sisi tanda/simbol yang ditampilkan dalam iklan, kajian semiotik.
Sejarah Periklanan
Ratna membagi sejarah periklanan dari dua sisi yaitu dari sisi industry yang terbagi atas; Masa Pra Industri, Industrialisasi, Masa Industri, Masa Pasca Industri, dan Masa Interaksi Global. Segi lain yang ia terangkan mengenai sejarah iklan adalah dari segi penggunaan ekspresi simbolik dalam iklan, terbagi atas; Orientasi Produk, Penyimbolan Produk, Personalisasi dan Penyegmentasian Pasar.
Dari penjelasannya tentang sejarah periklanan tersebut akan dapat kita temukan bagaimana proses perubahan fungsi komunikasi iklan yang tadinya hanya sekadar bersifat informasional hingga akhirnya bertambah menjadi transformasional. Untuk bisa memiliki fungsi transformasional iklan mesti memiliki sisi imaji yang menyebabkan para konsumen merasa wajib untuk memiliki produk tersebut. Sebab dalam kaitannya dengan komunikasi transformasional iklan harus bisa mengubah sikap konsumen terhadap produknya, bagaimana konsumen harus selalu merasa butuh dan nyaman dengan produk tersebut.
Simbolisme dalam iklan memiliki tiga bentuk yaitu; Citra, Ikon. dan Simbol. Ketiga bentuk simbolisme inilah yang menentukan berhasil tidaknya iklan dalam menjaring perhatian massa. Sebab iklan yang memiliki ketiga bentuk ini akan membuat masyarakat mudah dalam merepresentasikan nilai produk tersebut. Nah, semakin mudah direpresentasikan maka kita bisa lihat Coca-Cola sebagai contoh. Berhasil bukan, meskipun banyak hantaman terhadap produk cola baik secara ilmiah maupun sekadar testimonial saja. Untuk lainnya mengenai buku ini lebih baik didiskusiin aja deh…..
Judul Buku : Jalan Tengah Memahami Iklan
Penulis : Ratna Novianti
Tips Melayout Majalah
Mungkin sedikit membantu:
Sebelum membuat desain tentu hal yang mendasar adalah konsep, pertimbangkan hal sbb:
1. Jenis Kelamin pembaca
2. Range umur pembaca
3. karakter/image yg ingin ditampilkan misal: modern, trendy, fancy, childish, dll
Dari hal sederhana tsb bisa utk mengambil keputusan jenis fonts apa yang cocok, karena fonts kan memiliki image/karakternya, layout pun berangkat dari hal-hal ini.
Dalam hal layout yg perlu diperhatikan:
- Besar fonts
- Kerning
- jarak antar baris huruf (grid)
- lebar kolom
kayaknya kalo di jelasin panjang lebar bro.
Beberapa buku yg bisa dijadikan referensi:
- Layout dasar dan penerapannya- Surianto Rustan, terbitan Gramedia
- typografi - danton sihombing - gramedia
- typografi - rustan-->> belum terbit katanya 2010 mo terbit.
Semoga membantu.
Singkong, Gandum dan Peluncuran Jurnal
Di sana aku membaca sebuah artikel gratis yang tergeletak di meja, judulnya “Kenapa Tidak Gandum?” tampaknya menarik sebab di salah satu adegan yang dipentaskan oleh kelompok yang istriku main di dalamnya menceritakan tentang pertarungan gandum dan ganyong. Awalnya aku tidak mengerti bagaimana mungkin ada makanan yang yang dipertarungkan dan itu menyebabkan budaya dan perekonomian suatu negeri dapat terkena dampaknya. Halah... terlalu jauh itu orang mengait-ngaitkan, begitu pikirku.
Tapi setelah kubaca artikel itu tampaknya logis juga. Aku sharing aja ya di sini beberapa dampaknya:
1. Merusak neraca perdagangan Indonesia.
2. Ketergantungan pangan impor.
3. Merusak pasar pangan lokal yang dihasilkan petani kita sendiri.
4. Merusak pola konsumsi dan selera konsumen.
5. Menipu konsumen dengan iklan yang menyesatkan.
6. Menambah beban lingkungan.
Itu beberapa dampak yang disebutkan di artikel yang diterbitkan oleh Debt Watch Indonesia, KoAGE, ALIANSI, ParaGraph dan Loe Good. Untuk lebih jelasnya ya... googling ajalah. Oke.
Ada yang Lucu
Singkatnya, istriku dan kelompoknya selesai tampil. Cukup menarik perhatian peserta acara. Bagus menurutku bahkan aku sempat menitikkan airmata, ah betapa lemahnya aku. Hehehe... menjelang berakhirnya acara aku keluar sajalah. Keliling di gedung berlantai tujuh itu.
Toko ke toko dari lantai satu aku sambangi jendelanya, jadilah aku seorang window shopper. Begitu mewahnya barang yang dijual, bayangkan satu set sofa saja ada yang berharga 90 juta. Waw. Itu yang biasa apalagi yang tidak biasa yah... kursi kantor pun ada yang 3 juta. Ini sih ngeledek gw, ujarku dalam hati. Kenapa mesti di tempat seperti ini sih diadakannya acara yang..... entahlah. Rupanya aku terjebak oleh batas simbol yang terdapat pada nama penyelenggaranya, Yayasan Bina Desa. Aku terjebak pada kata ‘desa’. Hahahaaa.... lantas aku coba berpikir positif, kan ada Happy Salma dan aktivis terkenal jadi ya harus di tempat yang sesuai dong.
Cape berkeliling aku ke ruang makan, hahaha... sudah tersedia kopi, teh dan berbagai cemilan. Di sini yang lucu menurutku. Makanan kecil yang tersedia itu semuanya berbahan dasar terigu yang notabenenya terbuat dari gandum. Aku ya makan saja semua jenis makanannya hahaaa.... lha wong enak kok, tapi ya itu lho kenapa mereka mesti meletakkan seruan “Kenapa Tidak Gandum?” kalau toh makanan yang disediakan itu terbuat dari gandum. Lucu sajalah menurutku. Setidaknya menurutku itu lucu. Menurutku itu lucu setidaknya.
Oh ya, kembali lagi ke soal singkong yang aku makan pagi ini. Tidak terlalu enak sih menurutku, karena begitu empuk. Aku sukanya singkong yang tidak terlalu empuk agar tidak menyelip-nyelip di sela gigiku yang longgar. Lantas apa hubungannya dengan acara tadi. Gak ada mungkin. Heheheeee..... (2 Juli 2010)










